Sabtu, 02 Juli 2016
Suatu Pagi
Suatu pagi dihari minggu
aku menyesapi kembali rindu yang dahulu pernah kau curi
bukan tentang waktu yang kusesali
bukan juga hari ini.
Perempuan Perjumpaan
Sudah lewat setengah jam yang lalu, perempuan itu masih saja menunggu sesorang yang ingin sekali ia temui. Ia bahkan tak peduli lagi dengan langit yang gelap dan rasa lapar yang dirasakannya. Duduk termangu seorang diri di atas kursi tunggu yang sudah ia rasa kedinginannya. Tak ada lagi jadwal keberangkatan penumpang. Para pegawai telah pulang meninggalkan lapang. Hanya perempuan itu dan sesekali terlihat para pedagang. Ia bangkit dari duduknya, merasa gelisah dan berdingin darah. "Aku tak melewatkan apapun, bukan?". Ia selalu saja mengatakan hal seperti itu dan bertingkah mondar-mandir sambil melihat jam dinding di tempatnya sekarang. Sudah pukul 01.15 pagi rupanya. Perempuan itu terkaget mendapati tubuhnya yang masih tertidur di kursi tunggu milik stasiun.
Jumat, 15 April 2016
Tuan Brokoli dan Nyonya Wortel
Tuan itu menjumput tanah dengan tangannya yang gemetar. Dilihatnyalah sebuah nama dengan nada dering yang tak asing baginya. Sudah hampir 4 tahun ini, tuan brokoli tak pernah mengiyakan ataupun membalikkannya lagi apa yang ia terima selama ini. Saat itu, tuan masih berupa bibit. Parasnya yang biasa, tidak kekar apalagi besar, membuat dirinya menjadi terkenal saat ini. Suaranya yang penuh kehati-hatian, serta kumisnya yang melintang dan wajahnya yang terkesan pintar, membuat para urban terpana dengannya.
Lain halnya dengan nyonya wortel....?
Tunggu cerita selanjutnya....
Lain halnya dengan nyonya wortel....?
Tunggu cerita selanjutnya....
Kamis, 25 Februari 2016
Sabtu, 14 November 2015
Gulali Manis Yang Hadir Malam Minggu
Gulali manis yang acap kali hadir malam minggu
Mau ditemani kopi atau teh, boleh saja
Malam ini tak turun hujan, sayang
Jadi, kau tak usah khawatir
Gulalimu akan terus bersama kopi atau teh milikmu
Dan aku, mungkin akan cemburu
Gulali manis malam minggu
Esok pagi, kau akan basah lalu merebah
Mau ditemani kopi atau teh, boleh saja
Malam ini tak turun hujan, sayang
Jadi, kau tak usah khawatir
Gulalimu akan terus bersama kopi atau teh milikmu
Dan aku, mungkin akan cemburu
Gulali manis malam minggu
Esok pagi, kau akan basah lalu merebah
Sabtu, 17 Oktober 2015
Menganalisa
Salahkah jika malamku tiba di atap rumahmu,
Kan kuketuk dahulu,
Sembari kutaruh cawan di teras hatimu,
Harapku hanya satu, kau pecahkan atau minum rasa yang ada di dalamnya.
Itu saja.
Akhirnya, biarlah tanda yang menentukan.
Beres.
Kan kuketuk dahulu,
Sembari kutaruh cawan di teras hatimu,
Harapku hanya satu, kau pecahkan atau minum rasa yang ada di dalamnya.
Itu saja.
Akhirnya, biarlah tanda yang menentukan.
Beres.
Jumat, 11 September 2015
Tentang Yang Kemarin
Pagi itu, aku masih ingat pukul berapa. Ya, sekitar pukul 07.22 nada dering teleponku berbunyi. Menandakan adanya panggilan masuk. Saat itu aku sedang sarapan nasi uduk yang oleh bapakku berikan. Dengan terburu-buru aku mengunyah makanan tersebut hingga lumat yang terbilang masih menumpuk di dalam mulut milikku. Bukan milik bapakku.
Langsung aku sentuh layar telepon ke arah kanan, menandakan bahwa aku menerima panggilan tersebut. Akan tetapi sebelumnya aku tak ingin mengangkatnya. Karena nomer tanpa nama. Alhasil aku berlari menuju toilet yang kedap akan suara, agar pembicaraanku dengan sang penelepon tidak didengar orang.
Dari seberang telepon, terdengar suara laki-laki, yang menanyakan "apakah ini dengan bu Dela?". Saat aku mendengar kata ibu pada percakapan yang kami lakukan, rasanya aku ingin berteriak "aku masih muda, aku belum ibu-ibu," sebal juga rasanya. Masih pagi begini sudah dibilang ibu-ibu, siapa yang tak tersinggung.
Namun demi menghormati orang yang baru saja kukenal, tak berani aku katakan hal seperti itu. Dan ternyata laki-laki tersebut merupakan pak pos yang selama ini aku tunggu. Membawa sebuah barang yang telah lama pula aku tunggu. Senangnya bukan main, saat pagi itu aku ditelepon oleh pak pos.
Terima kasih pak, sudah membawakan karya terindah.
Terima kasih juga untuk Oase Pustaka yang sudah memilih puisiku menjadi Puisi Terfavorit 2015 dalam antologi puisi " Minor".
Itulah cerita singkat dariku.
Langsung aku sentuh layar telepon ke arah kanan, menandakan bahwa aku menerima panggilan tersebut. Akan tetapi sebelumnya aku tak ingin mengangkatnya. Karena nomer tanpa nama. Alhasil aku berlari menuju toilet yang kedap akan suara, agar pembicaraanku dengan sang penelepon tidak didengar orang.
Dari seberang telepon, terdengar suara laki-laki, yang menanyakan "apakah ini dengan bu Dela?". Saat aku mendengar kata ibu pada percakapan yang kami lakukan, rasanya aku ingin berteriak "aku masih muda, aku belum ibu-ibu," sebal juga rasanya. Masih pagi begini sudah dibilang ibu-ibu, siapa yang tak tersinggung.
Namun demi menghormati orang yang baru saja kukenal, tak berani aku katakan hal seperti itu. Dan ternyata laki-laki tersebut merupakan pak pos yang selama ini aku tunggu. Membawa sebuah barang yang telah lama pula aku tunggu. Senangnya bukan main, saat pagi itu aku ditelepon oleh pak pos.
Terima kasih pak, sudah membawakan karya terindah.
Terima kasih juga untuk Oase Pustaka yang sudah memilih puisiku menjadi Puisi Terfavorit 2015 dalam antologi puisi " Minor".
Itulah cerita singkat dariku.
Langganan:
Postingan (Atom)
