Gulali manis yang acap kali hadir malam minggu
Mau ditemani kopi atau teh, boleh saja
Malam ini tak turun hujan, sayang
Jadi, kau tak usah khawatir
Gulalimu akan terus bersama kopi atau teh milikmu
Dan aku, mungkin akan cemburu
Gulali manis malam minggu
Esok pagi, kau akan basah lalu merebah
Sabtu, 14 November 2015
Sabtu, 17 Oktober 2015
Menganalisa
Salahkah jika malamku tiba di atap rumahmu,
Kan kuketuk dahulu,
Sembari kutaruh cawan di teras hatimu,
Harapku hanya satu, kau pecahkan atau minum rasa yang ada di dalamnya.
Itu saja.
Akhirnya, biarlah tanda yang menentukan.
Beres.
Kan kuketuk dahulu,
Sembari kutaruh cawan di teras hatimu,
Harapku hanya satu, kau pecahkan atau minum rasa yang ada di dalamnya.
Itu saja.
Akhirnya, biarlah tanda yang menentukan.
Beres.
Jumat, 11 September 2015
Tentang Yang Kemarin
Pagi itu, aku masih ingat pukul berapa. Ya, sekitar pukul 07.22 nada dering teleponku berbunyi. Menandakan adanya panggilan masuk. Saat itu aku sedang sarapan nasi uduk yang oleh bapakku berikan. Dengan terburu-buru aku mengunyah makanan tersebut hingga lumat yang terbilang masih menumpuk di dalam mulut milikku. Bukan milik bapakku.
Langsung aku sentuh layar telepon ke arah kanan, menandakan bahwa aku menerima panggilan tersebut. Akan tetapi sebelumnya aku tak ingin mengangkatnya. Karena nomer tanpa nama. Alhasil aku berlari menuju toilet yang kedap akan suara, agar pembicaraanku dengan sang penelepon tidak didengar orang.
Dari seberang telepon, terdengar suara laki-laki, yang menanyakan "apakah ini dengan bu Dela?". Saat aku mendengar kata ibu pada percakapan yang kami lakukan, rasanya aku ingin berteriak "aku masih muda, aku belum ibu-ibu," sebal juga rasanya. Masih pagi begini sudah dibilang ibu-ibu, siapa yang tak tersinggung.
Namun demi menghormati orang yang baru saja kukenal, tak berani aku katakan hal seperti itu. Dan ternyata laki-laki tersebut merupakan pak pos yang selama ini aku tunggu. Membawa sebuah barang yang telah lama pula aku tunggu. Senangnya bukan main, saat pagi itu aku ditelepon oleh pak pos.
Terima kasih pak, sudah membawakan karya terindah.
Terima kasih juga untuk Oase Pustaka yang sudah memilih puisiku menjadi Puisi Terfavorit 2015 dalam antologi puisi " Minor".
Itulah cerita singkat dariku.
Langsung aku sentuh layar telepon ke arah kanan, menandakan bahwa aku menerima panggilan tersebut. Akan tetapi sebelumnya aku tak ingin mengangkatnya. Karena nomer tanpa nama. Alhasil aku berlari menuju toilet yang kedap akan suara, agar pembicaraanku dengan sang penelepon tidak didengar orang.
Dari seberang telepon, terdengar suara laki-laki, yang menanyakan "apakah ini dengan bu Dela?". Saat aku mendengar kata ibu pada percakapan yang kami lakukan, rasanya aku ingin berteriak "aku masih muda, aku belum ibu-ibu," sebal juga rasanya. Masih pagi begini sudah dibilang ibu-ibu, siapa yang tak tersinggung.
Namun demi menghormati orang yang baru saja kukenal, tak berani aku katakan hal seperti itu. Dan ternyata laki-laki tersebut merupakan pak pos yang selama ini aku tunggu. Membawa sebuah barang yang telah lama pula aku tunggu. Senangnya bukan main, saat pagi itu aku ditelepon oleh pak pos.
Terima kasih pak, sudah membawakan karya terindah.
Terima kasih juga untuk Oase Pustaka yang sudah memilih puisiku menjadi Puisi Terfavorit 2015 dalam antologi puisi " Minor".
Itulah cerita singkat dariku.
Minggu, 30 Agustus 2015
Tentang Yang Mana?
Entah, sudah keberapa kalinya hal ini terjadi. Bukan soal yang macam-macam. Tapi tentang yang mana?
Bukan itu saja, aku bahkan akan menutup mata. Jikalau 'tentang yang mana' menuntutku.
Mungkin cukup itu saja dariku.
Kantuk, 2015
Bukan itu saja, aku bahkan akan menutup mata. Jikalau 'tentang yang mana' menuntutku.
Mungkin cukup itu saja dariku.
Kantuk, 2015
Langganan:
Komentar (Atom)